MENGASAH JEJAK DI GUNUNG PARANG

IMG_20150705_072240Banyak aktivitas yang dapat dilakukan disela-sela libur kuliah dan biasanya anak muda sekarang akan berlomba-lomba menuju suatu tempat yang indah, ya di Indonesia demam travelling kini tengah berada di puncaknya. Mungkin ini travelling, mungkin ini petualangan, mungkin juga ini ekspedisi dari hasil omong doang atau kami sebut #omdoxpedition #Gleatadventule, kali ini yang kedua setelah Ekspedisi Kembang Api ke Tebing Patenggeng (tulisan nyusul 🙂 ).

Gunung Parang

Terletak di Kampung Cihuni, Desa Sukamulya, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat disitulah sumbat lava ini berada. Disebut demikian karena gunung ini merupakan sisa-sisa gunung api purba. Pada periode melemahnya aktivitas vulkanis di dapur magma, lama kelamaan lava panas di tubuh gunung api mulai mendingin, membeku dan mengeras. Bagian yang beku dan keras itulah bagian terkokoh dari gunung tersebut, sudah tentu merupakan batuan andesit. Lama-kelamaan kulit luar gunung yang terdiri dari lapisan tanah dan batuan yang lemah pun tergerus dan terlapukkan oleh iklim dan vegetasi, disaksikan oleh waktu yang lama hingga meninggalkan Gunung Parang.

Bagian kokoh gunung api purba tersebutlah yang menjadi sasaran main kami kali ini. Perjalanan kesana sudah dirancang sejak delapan bulan yang lalu, tapi masih Cuma sebatas omong doang, bukan masalah tak punya waktu soalnya setiap hari seringnya dihabisin di sekre, paling banter masalahnya ya uang saku. Baru kemudian di saat liburan, di saat bulan puasa muncul lagi gejolak ingin pergi kesana. Ekspedisi ini diprakarsai oleh A Imam yang tentu saja punya partner Sir Nyongmo. Keduanya memang kawanan yang kompak walaupun sering ribut juga, kalau lagi akur ya gitu, kompak abis!

A Imam sudah merancang tanggal dan rentetan kegiatan bersenang-senang disana. ekspedisi itu tujuannya untuk menambah tinggi jejak kawanan Jantera di Gunung Parang. Jejak tersebut tentu saja dilakukan dengan pemanjatan. Sebelum berangkat, perlengkapan pemanjatan sudah lengkap hasil dari pinjam sana-sini, latihan juga dilakukan dua kali di Gunung Batu, Lembang. Berbekal itulah tim #OmdoXpedition ini optimis pergi ke Parang.

Rencana yang harusnya berangkat sore pun terundurkan lama sekali hingga di malam hari. Tak apa, toh de drivers nya masih kuat-kuat. Waktu itu berangkat ber-enam dengan 4 motor yang telah dipenuhi alat. Ada kadat gilang lengkap dengan carier di pundaknya, ada aku bersama Sir Nyongmo, ada a Imam dengan tali terikat pada jok motor, ada Wa Asep dan Adik Jubed.

Agaknya Sir Nyongmo ketakutan dengan beban bawaannya di motor, terutama tali yang dimasukkan ke dalam dry bag segede gaban itu juga menjadi beban di motor tepatnya ada di atas pahaku, hasilnya kami selalu paling belakangan. Baru kemudian Sir Nyongmo gantian dengan a Imam tampak kelegaan di wajahnya. Memang rada mengkhawatirkan melewati jalanan Plered ini selain gelap dan banyak tikungan, yang lewat disini adalah mobil-mobil kelas berat, jadi kudu hati-hati!

Sebelum sampai di tujuan kami, singgah dulu sebentar di warung tak jauh dari Pasar Plered dengan tujuan bertemu dengan senior yang berujung ditraktir nasgor. Senior itu a Nusan, lelaki berhidung mancung dan berkulit agak gelap dan Oktober 2015 akan nikah (amin.) ini memang orang sini, orang Purwakarta dan kebetulan saat itu dia sedang ada di Plered. Basa demi basi, akhirnya keluarlah ucapan lapar itu tentu saja dia tahu taktik busuk teman-temannya itu.

Agar tak terlalu larut malamnya, kami lanjutkan perjalanan. Dari jalan besar tadi, kami berbelok ke kanan dan mulai memasuki Desa Sukamulya. Setapak demi setapak kami lewati, tibalah kami ke jalanan lebar dan berdebu sangat. Ternyata disekitar desa ini adalah tempat penambangan batu dan pasir. Agaknya sang navigator Sir Nyongmo salah memberi jalan, karena ini mengarah ke kawasan pertambangan, untung saja terlihat ada bapak-bapak di pos penjagaan kawasan tersebut dan kemudian mengarahkan kami agar melewati setapak yang langsung tersambung dengan jalan menuju tempat yang kami maksud. Setelah melewati hutan bambu dan jalanan sepi gelap, baru kemudian kami bertemu dengan bayangan tinggi hitam dan tegap di sebelah kiri kami. Itu adalah Gunung Parang. Entah kenapa, rasa mistis langsung menyergap ke beberapa orang dan tak henti-hentinya menatap gunung yang sedang gelap itu.

Disana, kita tinggal sementara di rumah keluarga yang sering disambangi oleh pemuda Jantera ketika bermain kesini. Namun, tempatnya sudah berubah kata a Monyong. Dulunya rumahnya itu rumah khas daerah jawa barat yaitu rumah yang terbuat dari kayu yang alasnya jauh dari tanah. Tapi kini rumahnya sudh dibeton dan di cat hijau, ruangan di sebelahnya masih dalam tahap pemugaran.

Si ibu yang mengenali beberapa wajah dari kami akhirnya mempersilahkan dan menyediakan tempat untuk kami ngalong. Tempat itu merupakan terasnya yang dihiasi dengan lesehan dari bambu, disitulah kami beristirahat.

My Trip My Problem

Tim pemanjat inti “Sir Nyongmo, A Imam dan wa Asep” sudah sahur dan pagi itu mereka sudah siap-siap dengan alat lengkap menempel di badan. Tim Support “Novi dan Jubed” juga sudah siap dengan beberapa kamera serta tripod. “Puncak adalah Segalanya” atau “My Trip, My Problem” itulah yang menjadi jargon tim OmdoXpedition ini.

Sudah mulai siang baru kami beranjak dari basecamp meninggalkan Kadat Gilang yang masih enak-enaknya bergelayut dalam sleeping bag. Dari basecamp, perlu hampir 10 menit berjalan kaki mencapai dasar tower 3 Gunung Parang. Untuk jalur pemanjatan, Gunung Parang dibagi ke dalam 3 jalur ada tower 1, 2 dan 3. Sesampainya disana kami langsung ambil gaya, ngeluarin alat ini-itu, nyiapin alat ini-itu, siap-siapnya mah sebentar Cuma ngobrol sambil ngemil itu yang lama, belum lagi ngeliat-liatin tebingnya yang sudah pesimis duluan.

Kami pikir, kami akan menjadi tim pemanjat satu-satunya di Parang saat bulan puasa itu, tapi tak lama kemudian muncullah tim lain yang sudah terlebih dahulu menyiapkan jalur mereka berupa untaian tali dari pitch 1 tebing. Ternyata, mereka merupakan instruktur dan muridnya yang sedang diajarkan mengenai perlatan-peralatan vertikal khususnya panjat.

Dibanding kami yang sudah lebih dulu sampai dan sudah siap-siap, mereka duluan yang nyuri start untuk segera melakukan ascendingan (merupakan kegiatan naik tali dengan alat yang dinamakan ascender atau jumar) di tebing. Haha, kita lihat saja kapan nih tim manjatnya mulai gerak. Baru setelah puas ngemil dan pemanasan seminimalnya (hanya sekedar goyang-goyang pinggang), pemanjatan dimulai.

Wa Asep selaku leader dalam pemanjatan ini mulai merayap, menempelkan diri ke tebing dan mulai memasangkan runner pada hanger-hanger di jalur crack. Selanjutnya menyusul a Imam dengan teknik ascendingan dari jalur sebelah setelah dipasang oleh Wa Asep, dilanjut Sir Nyongmo sebagai cleaner yang meng-clean runner-runner dari hanger. Sebenarnya Sir Nyongmo pada saat mulai pemanjatan sangat berbeda dari penampilan manjat ang biasanya. Ya, umur mempengaruhi katanya, jadi ya rada ripuh saat mulai manjat lagi.

6
orientasi medan
IMGP6019
the leader
Tim pemanjat a Imam, a Asep dan Sir Nyongmo yang sedang manjat
Tim pemanjat a Imam, a Asep dan Sir Nyongmo yang sedang manjat
3
cleaner #Sirnyongmo foto : a Imam
2
climber dan anchor, foto : a Imam

Hanya Mampu Sampai Tengah

A Imam : Dengan persiapan dan latihan fisik seadanya. Hasilnya udah ketebak, boro-boro tower 1 atau tower 2. Tower 3 saja yang katanya paling mudah, hanya mampu sampe tengah. Namanya juga ekspedisi omong doang, yang penting keliatan kaya beneran. haha
Hasil akhirnya adalah, “Hayu Ngalamun, Hayu Ngalaman!”

Ya begitulah, kalau pembelaan mamang Asep sih ini pengaruh dari malam yang tidak ditiduri menjelang pagi mau manjat. Ya, Wa Asep dan A Imam hampir tidak tidur malam itu, mungkin mereka demam tebing yang membuat batin rada reuwas sehingga tak bisa menikmati tidur.

Ceritanya, tim inti mencapai titik tertinggi mereka di pitch 6 yang ada bendera merah putihnya. Agaknya kemampuan tim ini belum bisa mengalahkan hasil kolaborasi dari Sir Nyongmo dan Bang Roges beberapa yang tahun silam mencapai pitch 7.

Jangan bersedih, karena “Puncak adalah segalanya” ya, termasuk pitch 6 yang telah dicapai tim ini, itulah puncak kita, hee. Dengan gembira, tim pun berlama-lama disana menikmati pemandangan yang tidak semua orang bisa menikmatinya, dari sana terlihat lenskep Kabupaten Purwakarta lengkap dengan bentang alam lainnya berupa bukit-bukit dan Waduk Jatiluhur juga! Bahagianya.

5
merah putih di tebing parang, foto a Imam
4
touchup! pitch 6, foto : a Imam

Tidak tau ngapain aja mereka selama si atas, yang pastinya mereka baru turun di malam hari dan sampai di basecamp pukul 9 malam.

6
malam dari pitch 6, foto: a Imam
4
cahaya lampu di tengah-tengah, itulah mereka

Kentut Terdengar Sampai Ke Bawah

Besoknya, tim support yang berkegiatan. Paginya aku dan Kak Kuke yang datangnya menyusul kemarin mendatangi tower 3 lagi. Sudah kuniatkan pagi itu untuk melihat sunrise dari tebing, walaupun ga tinggi-tinggi amat, tapi pitch 1 cukuplah untukku. Berdua kami bergegas mengganggu kesunyian di jalanan menuju tebing. Pagi yang masih gelap membuat kami berjalan harus dengan tuntunan arah lampu headlamp.

Aku naik ke pitch 1 dari tali yang telah disiapkan kemarin, naiknya pun ascendingan. Lama aku menunggu di atas, namun tampaknya ak ada kabar baik. Kabut masih tebal di atmosfer sekitar parang, arah tempat munculnya matahari pun dihalangi awan tebal. Semakin terang, jejak matahari kian meninggi namun masih tertutupi awan. Namun pada waktu yang singkat, tersibaklah awan itu sedikit dan mempersilahkan matahari menatap ke arahku. Bulat mataharinya sangat tampak merah. Namun selebihnya ditutupi kembali oleh si awan.

8
mataharinya terbit sedikit, merahnya banget, kameranya rada jorok

Dari atas aku menelepon Jubed yang sedang ada di basecamp menyuruh agar cepat datang agar tak gosong terpanggang di saat siang. Lama aku di atas itu. Waktu kuhabiskan dengan online dan memoto-moto yang ada di sekitar. Tadinya mengajak agar Kak Kuke juga ikut naik, namun apa daya kulit tangannya sudah tak kuat lagi menggenggam ascender karena ascendingan kemarin, akhirnya dia hanya menunggu di bawah.

Sambil sibuk online, dengan disengaja aku pun kentut dari atas, yang rupanya di bawah terdengar keras. Padahal jarakku ke bawah mungkin sekitar 30 meter.

“Nopi, kamu kentut ya?” teriak Kak Kuke.

“Hehe, iya kak. Sambil pura-pura tersipu malu.” Jawabku.

Memang dasar. Ini batunya penghantar segala-gala yang baik. Penghantar panas yang baik, penghantar listrik yang baik, juga penghantar suara kentut dengan sangat baik!

Disebut penghantar listrik yang baik, karena pernah senior di Jantera yang datang ke Parang di saat musim hujan, halilintar menyambar-nyambar hanya pada satu objek yaitu Gunung Parang. Katanya sih pemandangan yang menyeramkan, namun kataku mungkin itu pemandangan yang menakjubkan, aku pun berpikir akan melakukan wisata halilintar lain kali ke tempat ini, karena aku suka motoin sambaran petir.

2
yang kentut

Lebay Menuju Pitch 2

Akhirnya Jubed datang jugaaa. Setelah sekian lama aku menunggu dengan menempel pada dinding tebing. Si Jubed datang bersama Sir Nyongmo, karena tau aku ingin melanjut ke pitch 2 jadi tentu aku perlu sekali bantuan Sir ini.

Segera aku turun dan menjemput tali serta peralatan untuk membuat anchor nanti di Pitch 2. Pemanjatan dimulai dari Pitch 1, aku di belay oleh Sir Nyongmo. Pitch 1 mah ga ada apa-apanya dibanding menuju Pitch 2, apalagi sampai ke pitch-pitch selanjutnya pikirku.

Sulit sekali menuju pitch 2, dibanding menelusuri rekahan di sepanjang jalur menuju pitch 1. Dengan sangat perlahan dan hati-hati aku mulai meniti poin batuan di permukaan tebing. Dingin tanganku dan mulai berkeringat, bubuk magnesium yang kupakai tebal dengan cepatnya melebur, apalagi saat dihadapkan di poin yang sangat kecil dan mungkin licin. Masih sebentar lututku sudah ngedram (kondisi dimana lutut bergetar-getar tak mau berhenti).

A Monyong yang nge-belay aku pun sedikit tertawa dan memberi arahan pijakan.

“Memang gitu pi, hese kan? Haha” ujar A Monyong.

Bahkan karena sulitnya, aku pun rada berteriak yang terdengar sampai ke bawah padahal itu rada. Yang aku baru tau saat Jubed ngasih tau di saat dia sudah sampai di pitch 2 dengan jalur ascendingan, catat! Ascendingan, padahal kemarin janji mau manjat.

“Eta nanaonan meuni teriak-teriak kitu tadi teh? Lebay..(itu tadi ngapain teh, sampai teriak-teriak gitu?)hhaa” ujar Jubed.

Ah, dasar Jubed! Udah mah naik ascendingan, ngetawain pula diriku yang sedang gemetar manjat.

“Kan OmdoXedition teh, ekspedisi OMDO, jadi manjatnya juga omong doang haha!”tangkis Jubed ketika ditagih janji mau manjat.

1436672415927
bersama Jubed Omdo
1436672387024
Srikandi dan Jantera #pitch 2
1
Pemandangan dari pitch 2, terlihat Waduk Jatiluhur

Itulah liburan kita, itulah OmdoXpedition kita. Sampai jumpa di OmdoXpedition lainnya!!

Iklan

6 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s